Senin, 26 November 2012

Dilemma Pendidikan di daerah perbatasan



 oleh ; Inom Nasution

Film yang berjudul “ Surga katanya” menggambarkan kondisi negeri ini baik dari  pendidikan, kesehatan, penghasilan masyarakat setempat. Film ini memberi  gambaran bahwa kondisi pendidikan Indonesia diperbatasan sangat memperihatinkan. Tingginya semangat anak-anak perbatasan untuk bersekolah, tetapi keaadaan sekolah sangat memprihatinkan dari semua sisi. Baik guru, gedung dan sarana/prasarana, komunikasi  dengan pemerintah daerah maupun pusat. Hal ini menggambarkan bahwa kurangnya perhatian pemerintah daerah maupun pusat terhadap wialayah perbatasan.
Bila dibandingkan dengan perbatasan dengan Malaysia, kondisi wilayah perbatasan kita sangat jauh berbeda. Perbatasan Malaysia wilayahnya begitu baik dari semua sisi (Pendidikan, ekonomi, kesehatan,komunikasi  maupun transportasi)  Kemiskinan pula yang meyebabkan banyaknya penduduk perbatasan  Indonesia  pindah menjadi warga Negara Malaysia.  
Berdasarkan cerita flm tersebut hendaknya pemerintah daerah maupun pusat dapat bersinergi mengembangkan dan meningkatkan baik pendidikan, ekonomi, kesehatan, transportasi dll. Dengan cereita flm itu hendaknya dapat diambil pelajaran bahwa menjadi guru diderah terpencil dan tertinggal sangat lah mulia, sebab harapan dan cita-cita anak-nak derah tertinggal dan terpencil seperti diperbatasan Negara merupakan tugas dan tanggung jawab kita semua. semoga

Kamis, 22 November 2012

MENYAMBUT KURIKULUM BARU

pemerintah terus berupaya dan berusaha meningkatkan mutu pendidikan kita. saat ini  pemerintah berusaha memperbaiki  kurikulum. kurikukulum ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan kualitas peserta didik dan meningkatkan minat belajar siswa. pada jenjang SD jam pelajaran akan ditambah dan mata pelajaran akan dikurangi supaya anak2 tidak lagi membawa tas yang besar yang berisi buku yang banyak. selama ini siswa sekolah seakan-akan membawa buku satu lemari yang ada di rumahnya. di SD pembelajaran akan difokuskan pada Tematik. sehingga semua mata pelajaran dapat terintegrasi dengan baik.
pada SMP juga jam pelajaran juga akan ditambah dan mata pelajaran berkurang. di SMP anak akan lebih memperdalam pelajaran yang diteriama di SB. nantinya anak-anak yang belajar di sekolah mulai dari SD sampai SLTA cara belajaranya tidak hanya duduk di kelas saja. diharapakan anak-anak akan dapat lebih aktif dan mencari dan mencoba semua mata pelajaran yang dipelajari di sekolah. Dengan kurikulum baru ini jam belajar siswa lebih lama di sekolah. dengan harapan siswa nantinya dapat menumbuhkan minat belajar dan minat baca yang tinggi.
hal ini dapat terwujud dengan baik bila kualitas pendidik dan tenaga kependidikan dapat sejalan dengan kurikulum yang telah dibentuk pemerintah. selain itu, tersedianya sarana dan perasana yang mendukung untuk belajar lebih lama di sekolah. serta tersedianya fasilitas sekolah lainnya. semoga harapan ini akan terwujud.

Sabtu, 10 November 2012

Sekolah; Pembinaan Minat Baca Anak




Oleh; Inom Nasution

Sekolah merupakan tempat orang-orang menggali dan menuntut ilmu pengetahuan. Di sekolah pula tempat berkumpulnya siswa dari berbagai status sosial. Walau banyak yang berbeda namun sekolah dapat menyatukan berbagai perpedaan. Sehingga semua warga sekolah (siswa) dapat duduk dan belajar bersama dalam meraih cita-cita. Untuk meraih cita-cita diperlukan banyak membaca , baik di rumah maupun di sekolah. `
Di sekolah membaca merupakan kewajiban dalam menggali ilmu pengetahuan yang diberikan guru. Semua pelajaran yang disampaikan guru wajib dikaji dan didalami dengan membaca berbagai buku. Buku yang  ada diperpustakaan sekolah harus dapat dimanfaatkan siswa untuk memperdalam pengetahuannya. Di rumah orangtua juga dapat menyediakan perpustakaan keluarga. Koleksi buku yang disediakan keluarga dapat membantu anak dalam memperdalam dan memperkaya ilmu pengetahuan.
Kebiasaan-kebiasaan membaca di sekolah dan di rumah dapat meningkatkan budaya baca bangsa yang berkualitas. Suatu bangsa yang berkualitas dapat dilihat dari tingginya minat baca anak, guru, orangtua ataupun masyarakat.
Di Indonesia minat baca anak masih rendah. Hasil survey PBB untuk pendidikan, sains, dan kebudayaan (UNESCO) menyebutkan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar 0,001 (Waspada, 6 November 2012).  Artinya dari seribu penduduk hanya ada satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Angka ini sangat jauh bila dibandingkan minat baca Singapura yang memiliki indeks membaca 0,45.
Keadaan seperti ini akan sulit membawa bangsa ini menuju manusia yang berkualitas. Bukankah salah satu ciri bangsa yang berkualitas menunjukkan tingginya minat baca siswa, guru, orangtua dan masyarakat ? membaca bukan hanya dianjurkan pada anak, akan tetapi orangtua dan guru yang pertama memberikan contoh baca yang baik.
Perintah Allah yang pertama dalam surat Al-Alaq ayat 1 artinya “ Bacalah” Ayat ini menandakan bahwa kita manusia wajib membaca. Wahyu pertama tersebut merupakan perintah membaca yang komprehensif: membaca  dan menelaah semesta,   membaca dan  menelaah diri; membaca dan  menelaah yang telah tertulis,  serta  membaca dan  menelaah yang tidak tertulis.
Telaah terbukti dalam sejarah, Plato, Aristoteles merupakan contoh pembaca dan penulis di zaman kejayaan Yunani-Romawi yang jejak tulisannya ada sampai sekarang.
Ibnu Rusydi (Avero), Ibnu Sina (Avesina), Aljabar, Al-Ghazali adalah pembaca dan penulis zaman kejayaan Islam yang jejak tulisannya abadi sampai sekarang.
Berdasarkan contoh para pembaca dan penulis ini  merupakan tokoh yang patut ditiru, dicontoh supaya anak-anak gemar membaca dan menulis. Membaca tidak hanya dijadikan sebagai anjuran atau paksaan sekolah/guru saja, tetapi membaca menjadi kebutuhan dalam diri.
Sekolah dan orangtua dapat melaksanakan beberapa hal dalam membina minat baca siswa. Di sekolah dapat dilaksanakan seperti ; (1) Perpustakaan sekolah harus menyediakan buku-buku bacaan yang menarik bagi siswa seperti novel, sastra, komik dan lainnya yang sesuai dengan usia.(2) guru dapat memberi banyak tugas untuk membaca sesuai dengan tugas yang diberikan pada siswa.
(3) guru atau sekolah dapat memberi reward (penghargaan) pada siswa yang banyak membaca buku. (4)  perpustakaan atau sekolah dapat mengadakan perlombaan membaca, supaya anak yang kurang minat bacanya akan tertarik untuk meningkatkan baca.(5)  guru maupun orang tua dapat memberi contoh membaca. Di sekolah maupun  anak dapat melihat guru-guru gemar membaca. Misalnya setelah guru membaca satu buku guru dapat menceritakan isi buku yang telah dibacanya. Sehingga membuat anak penasaran dengan apa yang telah dibaca guru.
Dalam keluarga dapat dilaksanakan seperti;

Kamis, 01 November 2012

Kegagalan Guru Profesional



Oleh:  Inom Nasution
Pendahuluan
Guru merupakan tulang punggung terjadinya proses belajar mengajar di sekolah. Tanpa guru pembelajaran tidak akan dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya pemerintah telah berupaya mengangkat harkat dan martabat guru dimana selama ini banyak kalangan yang beranggapan bahwa guru kurang diperhatikan pemerintah terutama terlihat dari pemerolehan penghasilan atau kesejahteraan.
Sejak dikeluarkan UU guru dan dosen tentang sertifikasi, sejak itu pula guru mendapat predikat pendidik profesional. Dengan kata profesional guru diberi kesejahteraan yang memadai oleh pemerintah. Dengan harapan bahwa dengan sejahteranya guru maka peningkatan kemampuan megajar lebih difokuskan di sekolah khususnya dala kelas. Diharapkan guru juga dapat menciptakan proses belajar yang menyenangkan, kreatif dan inovatif. Namun harapan ini belum dapat terwujud sepenuhnya sebagaimana dikatakan guru profesional.
Masalah yang muncul sekarang adalah kelemahan utama yang ada pada guru yang berupa kurangnya di bidang pengembangan profesi. Bagi guru yang telah memenuhi kualifikasi akademik saja masih banyak kesulitan atau kekurangan kemampuan dalam pengembangan profesi akademiknya maupun pengembangan profesinya (Welas Waluyo, 2007).
 Kelemahan guru di  sumatera utara  khususnya guru madrasah untuk mengikuti kompetisi meningkatkan profesi, kompetensi, kinerja dan prestasi. Padahal undangan  untuk kompetisi  sering datang  dari  kementerian Agama RI.  Undangan kemudian disampaikan ke setiap daerah kab/kota supaya guru dapat ikut  ambil peran dalam kompetisi tersebut. Hal ini sangat disayangkan karena kesempatan tidak dimanfaatkan untuk pengembangan profesi, kompetensi, kinerja dan dan prestasi dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/madrasah dan mutu lulusannya. Disisi lain, minat guru juga dalam membaca sangat minim untuk mengembangkan profesi padahal dengan tambahan gaji yang telah diberikan pemerintah tidak membuat guru termotivasi untuk menambah wawasan baik dengan membeli buku atau pun sumber lain nya yang mendukung peningkatan profesi dan mengembangkannya  Disamping itu,  kurang minatnya guru dalam menulis seperti penyusunan buku, penulisan artikel di media cetak maupun elektonik, dan penelitian dan pengabdian masyarakat. Hal itu (mungkin saja) disebabkan karena kesulitan dan kemalasan pada diri pribadi guru, sikap egoisme yang berlebihan, tidak mau bertanya dan belajar yang menyebabkan rendahnya motivasi guru dalam menunjang dan meningkatkan profesi.
Serta  kemampuan guru  dalam mengajar masih cukup lemah seperti kemampuan guru dalam mengajarkan pemahaman pada siswa di kelas masih rendah. Sebagaimana sebuah hasil penelitian tentang kemampuan mengajar guru tentang pemahaman disebutkan  kemampuan guru-guru tersebut relatif rendah, yaitu hanya 42,85 % dari ideal. Sementara itu, kemampuan tiap tahapan pembelajaran pada prainstruksional 29,67 %, instruksional 49,55 %, dan evaluasi 24,75 % dari ideal (http://edukasi.kompas.com/read/2009/10/28).    Ini menunjukkan bahwa kemampuan  mengajar guru setelah memproleh predikat guru profesional masih tetap tidak mengalami perubahan yang berarti. Hal ini juga menggambarkan bahwa guru yang berpredikat profesional masih kurang mengembangkan kemampuannya dalam berbagai kompetensi.
Selain itu, dalam sebuah surat kabar lokal mengabarkan bahwa sebanyak sebelas ribuan guru, hanya 0,05% saja yang telah melakukan pengembangan profesi dengan membuat karya ilmiah atau penelitian (Radar Pekalongan, 29/5/2009). Dilaporkan harian ini pula, minat guru minim karena para guru masih terjebak dengan rutinitas mengajar yang dilakukan setiap hari di kelas.
Hal ini membuktikan bahwa selama pemerintah telah memberikan perhatian pada guru sebagai guru profesional belum menunjukkan hasil yang berarti. Dimana seorang guru profesional yang diharapkan pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan belum dapat diharapkan pada guru sepenuhnya. Selama guru belum dapat meningkatkan kompetensinya sebagaimana yang ditetapkan pemerintah. Untuk itu tulisan ini akan membahas bagaimana seorang guru profesional  yang berperan meningkatkan mutu pendidikan.
Guru Profesional.
Definisi Guru
Menurut pandangan tradisional guru adalah seorang yang berdiri didepan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.  Guru adalah orang yang layak digugukan dan ditiru. Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar. Pendapat lain menyatakan bahwa guru pada hakikatnya merupakan tenaga kependidikan yang memikul berat tanggung jawab kemanusiaan, khususnya berkaitan dengan proses pendidikan generasi penerus bangsa menuju  gerbang pencerahan dalam melepaskan diri dari belenggu kebodohan. (Trianto, 2009 :I ). Betapa berat tugas dan kewajiban yang harus diemban oleh guru tersebut sehingga menuntut profesionalitas dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan pendapat Syafaruddin Nurdin (2000: h.7) menyebutkan guru adalah seorang tenaga profesional yang dapat menjadikan murid-muridnya mampu merencanakan, menganalisis dan menyimpulkan masalah yang dihadapi.
Dari beberapa uraian tersebut tergambar bahwa menjadi seorang guru tidaklah mudah. Apalagi menjadi guru teladan dan profesional di sekolah/madrasah. Pada umumnya, untuk menjadi guru teladan terutama di sekolah/madrasah itu gampang-gampang susah. Sebagi contoh, ada kecenderungan yang menarik di dunia persekolahan kita, guru yang dielu-elukan, dipuji dan diberi gelar sebagai guru yang baik adalah guru yang murah dalam memberi nilai dan gaul dalam arti mau terlibat langsung dengan aktifitas murid, serta menuruti semua keinginan siswa (Kompas, 10/9/2008).

Definisi Professional
Istilah “profesi” sudah cukup dikenal oleh semua pihak, dan senantiasa melekat pada “guru” karena tugas guru sesungguhnya merupakan suatu jabatan profesional. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih tepat, berikut ini akan dikemukakan pengertian “profesi” dan kemudian akan dikemukakan pengertian profesi guru. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya.
Profesional mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya.  Guru adalah seorang yang menyandang gelar profesional  dalam bidang pendidikan. Sebagaimana dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Oleh karena itu guru tercermin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari baik di sekolah/madarasah dengan menampilkan sosok guru yang menguasai berbagai metode, strategi dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari dalam menghadapi berbagai sikap dan perilaku siswa dengan berbagai macam karakteristik.

Kompetensi Guru Profesional
Menurut Watson Wyatt dalam Ruky  (2003: 106) competency merupakan kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku (attitude) yang dapat diamati dan diterapkan secara kritis untuk suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi pribadi karyawan terhadap organisasinya. Suparno (2000: 22.) menjelaskan bahwa kata kompetensi biasanya diartikan sebagai kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas atau sebagai memiliki keterampilan dan kecakapan yang disyaratkan. Dalam pengertian yang luas di atas bahwa setiap cara yang digunakan dalam pelajaran  yang ditujukan untuk mencapai kompetensi adalah untuk mengembangkan manusia yang bermutu yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan sebagaimana disyaratkan. 
Seiring dengan pengertian di atas Kenezevich  (1984: 17), menjelaskan pengertian kompetensi yaitu kemampuan-kemampuan untuk mencapai tujuan organisasi. Kemampuan tersebut merupakan hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak jenisnya, dapat berupa pengetahuan, keterampilan,  kepemimpinan,  kecerdasan dan lain-lain yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Lyle M.Spenser, Jr dan Signe M.Spenser dalam Ruky (2003:104.), kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta bertahan cukup lama dalam diri manusia. Dari beberapa uraian tentang kompetensi tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi atau kemampuan didefenisikan sebagai suatu sifat dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan secara efektif atau sangat berhasil. Dengan demikian, kompetensi adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dan sebagainya untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan.
Seiring dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.  Oleh sebab itu guru profesional harus dapat mengembangkan setiap kompetensi tersebut agar dapat dikatakan sebagai guru profesional sebagaimana tertuang dalam undang-undang tersebut. Sehingga tujuan pendidikan yang bermutu  serta mutu lulusan dapat dicapai dengan optimal.
Penutup
Dari uraian tersebut tergambar bahwa kegagalan guru profesional yang selama ini belum memperlihatkan hasil sebagaimana harapan pemerintah disebabkan karena minat dan motivasi guru yang minim. Guru kurang mengembangkan profesi yang telah diperolehnya sebagaimana sertifikat yang dimilikinya. Kurangnya kemauan dan minat guru untuk membaca, menulis, mengikuti kompetisi,  dan hal-hal lain yang dapat mengembangkan profesi guru.  Guru profesional sebagaimana dalam  UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen ( pasal 1) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan demikian sebagai guru profesional kiranya guru dapat mengembangkan diri melalui berbagai cara baik dengan membaca, menulis, mengikuti berbagai kompetisi dan lain sebagainya yang dapat mendukung peningkatan profesi, kompetensi, prestasi dan kinerja sebagai pendidik profesional.

Minggu, 20 Mei 2012

Warga Tokyo Saksikan Gerhana Matahari Pertama dalam 173 Tahun

Tokyo, Fenomena gerhana matahari cincin disambut banyak orang di beberapa bagian wilayah Indonesia, China, Taiwan, Jepang hingga ke Amerika Serikat. Di Jepang, fenomena ini bisa disaksikan warga Tokyo, Nagoya dan Osaka pada Senin pagi waktu setempat. Gerhana matahari cincin atau juga dinamakan gerhana "cincin api" ini bisa dilihat di pantai Pasifik di bagian barat daya hingga ke timur laut Jepang. Gerhana tersebut berlangsung selama sekitar empat hingga lima menit. Demikian seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (21/5/2012). Gerhana sebagian dimulai sekitar pukul 6 pagi waktu setempat di Prefektur Kagoshima di sebelah barat daya Jepang. Kemudian gerhana matahari cincin terjadi sekitar pukul 07.20 dan sekitar pukul 07.32 waktu setempat di daerah perkotaan Tokyo. Bagi warga Tokyo, fenomena ini sangat spektakuler. Sebabnya, ini merupakan fenomena gerhana matahari pertama di Tokyo dalam 173 tahun terakhir. Seorang warga Jepang, Sadanobu Takahashi (60) bersama istrinya yang berasal dari Prefektur Akita, Jepang utara, sengaja ikut serta dalam tur khusus selama 2 hari di Tokyo untuk menyaksikan gerhana tersebut dari puncak gedung berlantai 54 di distrik Roppongi, Tokyo. "Lihat! Sekarang cincinnya sempurna. Mengagumkan!" teriak Takahashi saat menyaksikan fenomena istimewa tersebut. Di jalan-jalan Tokyo, para komuter mulai dari pengusaha hingga anak-anak sekolah berhenti sejenak untuk menyaksikan gerhana tersebut. Mereka pun bersorak-sorai ketika melihat kemunculan gerhana matahari cincin tersebut. Fenomena gerhana matahari ini merupakan yang pertama di tahun 2012. Gerhana ini terjadi ketika bulan menutupi matahari karena bulan berada di posisi terjauh. Ukuran bulan lebih kecil daripada matahari, ketika piringan bulan menutupi matahari maka akan terbentuk cahaya seperti cincin, di mana bagian tengah gelap tapi tepinya cemerlang.

sumber:  http://news.detik.com/read/2012/05/21/125926/1920743/1148/warga-tokyo-saksikan-gerhana-matahari-pertama-dalam-173-tahun?n991102605

Minggu, 15 April 2012

Menjalani Ujian Nasional 2012

para siswa SMA/MA dan sederajat hari ini sedang menjalani Ujian Nasional. dengan UN nantinya akan menentukan kelulusan dan ketentuan melanjutkan ke PT mana yang akan diplih setelah lulus nanti. untuk itu para siswa yang menjalani UN hendaknya dapat menjaawab semua soal UN dengan baik karena telah mempersiapkan diri jauh hari seblumnya.

diharapkan dalam pengumuman UN hendaknya tidak ada siswa yang kecewa dengan hasil yang telah ia peroleh sesuai usahanya masing-masing. selama dalam pendidikan yang sungguh-sungguh belajar tentunya menhgaharapkan nilai dan hasil yang maskimal. sedangkan yang belajarnya setengah sungguh akan memperoleh nilai yang setimpal pula.
dengan UN semua kita akan mengharapkan hasil yang baik, tidak ada harapan yang tidak baik. dengan UN pula mutu pendidikan akan meningkatkan pula sebagaimana harapan semua pihak termasuk pemerintah, dan masyrakat.

dengan mmeningkatnya mutu pendidikan kita dimasa mendatang SDM kita telah sangat siap menghadapi persaingan global, dimana pada saat ini kita semua telah menuju ke arah sana (global). dengan mutu pendidikan yang sepadan dengan negera lain diharapkan SDM kita tidak kalah saing dalam menghadapi tantangan zaman yang telah berada di depan mata.

hanya satu harapan penulis, dengan pendidikan yang berkualitas, iman dan ketaqwaan kita akan berkualitas pula sebagaimana tuntutan dan arahan pemerintah saat ini yang tercermin dalam penerapan pendidikan karakter.

by Inom Nasution

Jumat, 16 Maret 2012

Pendidikan Karakter Contoh Pendidikan Karakter Dikembangkan

Contoh penerapan pendidikan karakter dikembangkan di 500 institusi pendidikan formal dan nonformal di 33 provinsi.
Praktik-praktik pendidikan karakter yang sudah dijalankan itu, diharapkan dapat memberi insiprasi sekolah lain untuk melaksanakan dan mengembangkan pendidikan karakter yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah atau daerah masing-masing.

Pendidikan karakter di sekolah-sekolah itu mestinya juga mengambil dari kearifan lokal, selain nilai-nilai kebajikan yang umum.
"Kita ingin penerapnnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah yang dapat diukur. Misalnya, kebersihan masih jadi problem banyak sekolah. Bisa dimulai dari situ, lalu dikembangkan pada karakter lain yang mudah diukur dan diterapkan," kata Erry Utomo, Kepala Bidang Kurikulum dan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, dalam seminar bertajuk Pendidikan Harmoni Sebagai Pendidikan Karakter Yang Kontekstual di Jakarta, Senin (26/9/2011).

Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar, mengkritisi pendidikan karakter yang tidak memiliki konsep yang jelas. Pendidikan karakter di Indonesia mestinya berdasarkan kebudayaan Indonesia yang multikultural.

"Pendidikan karakter Indonesia semestinya dengan mengembangkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama yang memepersatukan Indonesia. Ini akan menjadi karakter yang khas Indonesia dibanding dari negara lain, sebagai negara yang hidup dalam budaya multikultural," kata Tilaar.

Menurut Tilaar, nilai-nilai karakter Indoensia yang hendak dibangun itu ada di dalam nilai-nilai Pancasila, yang sebenarnya digali dari kebudayaan-kebudayaan daerah. Yang dibutuhkan sekarang ini, bagaimana pendidikan nasional kita dapat menerapkan pendidikan yang mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkarakter," kata Tilaar.

Sementara itu, Tjahjono Soerjodibroto, Direktur Nasional World Vision Indonesia, mengatakan perlu dikembangkan pendidikan kontekstual yang sesuai dengan isu dan kebutuhan pengembangan wilayah setempat.
Pendidikan kontekstual merupakan pendidikan yang memberdayakan dan membangun kesadaran kritis. Pendidikan itu yang bertumpu pada kearifan dan potensi lokal, guna menyiapkan anak untuk dapat hidup utuh sepenuhnya dan memiliki karakter yang baik.

Pendidikan karakter yang kontekstual, antara lain dikembangkan World Vision Indonesia - Wahana Visi Indonesia melalui pendidikan harmoni. Di sini diajarkan nilai-nilai harmoni dengan diri sendiri, sesama, dan alam untuk dapat hidup dalam masyarakat multikultural.

Pendidikan harmoni ini sebagai salah satu model pendidikan karakter yang kontekstual yang dikembangkan di banyak sekolah di Sulawesi Tengah.
"Dengan menggali kembali warisan budaya dan kearifan lokal yang sejatinya telah mencontohkan kehidupan yang rukun dan damai, maka nilai-nilai harmoni kembali digali dari budaya setempat," kata Tjahjono.

sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/26/21215179/Contoh.Pendidikan.Karakter.Dikembangkan